Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ramadhan di Musim Panas

Bulan Puasa di Jerman

Assalamualaikum....
Marhaban ya Ramadhan, bulan penuh ampunan dan rahmat ini akhirnya tiba juga. Bulan yang sudah ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di dunia. Baik di Indonesia atau belahan bumi mana pun umat muslim wajib hukumnya menjalankan puasa Ramadhan, tentunya bagi yang sudah baligh dan memenuhi syarat-syarat tertentu.

Masih teringat dibenak saya bahwa Ramadhan tahun lalu harus saya lalui tanpa sanak saudara di negeri orang, yaitu Jerman. Ramadhan yang paling berkesan yang pernah saya jalani. Berikut cuplikan pengalaman saya ketika bulan Ramadhan selama di Jerman. Semoga bisa bermanfaat bagi kalian yang akan atau sedang di Jerman. Jangan sampai kaget ya 😁

5 Hal Penting Saat Bulan Ramadhan di Jerman

1. Sommer alias musim panas. Kebetulan tahun ini Ramadhan jatuh pada musim panas. Kebayang kan bagaimana teriknya musim panas di Jerman. Lamanya berpuasa juga berbeda dengan musim-musim lainnya karena pada musim panas matahari bersinar lebih lama. Lama waktu berpuasa sekitar 19 jam. Lumayan beda waktu sekitar 7 jam dengan di Indonesia. Harus menahan lapar mulai jam 3.00 sampai jam 22.00. Saat berpuasa di musim panas tidak membatasi saya untuk berhenti beraktifitas. Kegiatan sehari-hari harus tetap dikerjakan. Alhamdulillah sebulan ini tetap biasa puasa full. Tipsnya perbanyak makan sahur dan buah saat berbuka dan sahur.

2. Buka puasa. Waktu berbuka yang lumayan sudah larut malam sehingga saya berbuka puasa sendiri. Jadi sebelumnya saya dan ibu asuh saya sudah memasak dan mempersiapkan menu berbuka, setelah tiba waktunya baru deh saya menyantap menu yang sudah kami buat. Sebenarnya di masjid-masjid setiap hari selalu diadakan buka puasa bersama tetapi sayang rumah saya jauh dari masjid. Tetapi pada pertengahan Ramadhan saya menyempatkan untuk menghadiri acara buka puasa tersebut. Menu yang disediakan sangat beragam, tetapi yang paling mendominasi adalah menu masakan Turki karena memang sebagian besar penduduk muslim yang tinggal di kota saya adalah orang Turki. Berkumpul dengan seluruh umat muslim sedunia rasanya menjadi buka puasa yang berbeda dari sebelumnya. Kebetulan saat itu saya bersebelahan dengan orang yang berasal dari Afganistan. Beliau mempunyai sahabat orang Indonesia dan sering diundang untuk makan bersama, beliau bilang," indonesische Essen sind sehr lecker"  (Masakan-masakan Indonesia sangat enak).

3. Salat tarawih. Selama sebulan puasa saya menjalankan shalat tarawih di rumah karena jarak ke masjid yang lumayan jauh. Jadi saya harus naik kereta ke kota terlebih dahulu dan waktu sholatnya sekitar pukul 23.00 jadi terpaksa sholat tarawihnya di rumah. Tetapi saat saya menghadiri acara buka bersama di kota Tubingen bisa pulang sekitar pukul 24.00. Untung saja di Jerman sistem transportasinya bagus banget jadi tidak khawatir pulang jalan kaki.

4. Sahur. Sahur sendirian itu rasanya sangat hambar, apalagi jarak antara berbuka dan sahur yang cukup pendek terkadang membuat saya malas untuk sahur. Jadi sekalian buka puasa makannya double. Walaupun sebenarnya itu tidak baik 😁. Tetapi akhirnya sadar juga kalau ada hikmah tersendiri dibalik makan sahur, pada pertengahan puasa saya bertekad untuk tetap bangun makan sahur.

5. Idul Fitri. Setelah sebulan berpuasa pasti yang ditunggu-tunggu hari raya idul fitri kan. Merupakan hari kemenangan bagi seluruh umat muslim sedunia. Idul Fitri kali ini pasti berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya berencana untuk Idul Fitri bersama keluarga besar Indonesia di Kedutaan Berlin. Untuk bagian ini saya liput khusus di judul berikutnya.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca sedikit pengalaman saya. Semoga bermanfaat :-)



Post a Comment for "Ramadhan di Musim Panas"