Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Allah lebih tahu yang terbaik untuk hambanya

Itulah kata yang akhir-akhir ini selalu terngiang dibenakku. Ketika kita sudah berusaha dan Allah belum mengabulkannya, ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin itu bukan yang terbaik untuk kita dan yang kedua, mungkin Allah masih menyimpannya dan menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkannya. Allah ingin tahu seberapa sabar hambanya dalam menerima cobaan.
Kemarin aku menemukan sepenggal cerita yang lucu sekaligus menggetarkan hati untuk mengucap “Subhanallah, rencana Mu memang lebih indah ya Allah”. Sebuah buku berjudul “Agar Jatuh Cinta Tak Jadi Bencana” karangan Jauhar al-Zanki mengingatkanku kembali akan rencana Allah.
Sebuah cerita yang mengisahkan seorang raja yang mempunyai kegemaran berburu. Suatu ketika sang raja pergi berburu bersama pengawalnya ke hutan. Hari itu cerah sekali. Sang raja pun telah siap dengan semua perlengkapan berburunya. Sebelum raja memulai berburu, ia memanggil pelayan setianya, “Pelayan, kemarilah kau!”
Dengan segera pelayan pun menghadap sang raja, Ada apa Paduka?” Tanyanya sambil membungkuk hormat. Raja mengambil sebuah senapan, lalu diberikan kepada si pelayan itu.
“Kau coba senapan itu, bagus atau tidak!” Pinta sang raja.
Dengan gemetar si pelayan mengambil senapan yang baru itu dari tangan sang raja. Sementara ujung senapan mengarah pada sang raja. Dengan ceroboh dan tanpa disadari ia memijit platuk senapan tersebut. DOR, peluru pun melesat ke arah raja.
“Auww!” Teriak sang raja, ia pun tertembak.
“Dasar bego, kurang ajar!” Raja marah-marah sambil meringis kesakitan. Telunjuknya putus akibat senapan itu. Kini sang raja tidak punya telunjuk. Perburuan pun ditunda.
“Paduka ampuni saya, saya tidak sengajaja. Mungkin ini yang terbaik Paduka!“ Kata si pelayan mengiba sambil memohon belas kasihan pada sang raja sebelum ia dimasukkan ke dalam penjara.
“Yang terbaik katamu? Goblok kamu, tertembak kok terbaik.” Sentak raja bengis.
Akhirnya si pelayan pun pasrah dengan keputusan raja yang memerintahkan agar ia dipenjara. Ia pun akhirnya meringkuk di sel tahanan, “Inilah yang terbaik!” Lirihnya pelan.
Sebulan setelah kejadian itu, raja pergi berburu lagi dengan para pengawalnya. Setelah sampai hutan mereka pun mulai beraksi mengepung seekor kijang. Tanpa disadari sang raja dan para pengawalnya telah dikepung oleh segerombolan manusia kerdil. Dengan segera segerombolan manusia kerdil tersebut menyerbu raja dan pengawalnya. Mereka dibawa ke sarang para manusia kerdil tersebut. Satu per satu pengawal kerajaan itu disembelih, lalu dimasak dan dimakan dagingnya. Hingga akhirnya giliran raja untuk disembelih. Pemimpin manusia kerdil itu mengamati raja dengan seksama. Wajah sang raja pun sudah pucat dan gemetaran. Gerombolan manusia kerdil itu sangat senang melihat raja yang ketakutan.
Tiba-tiba raja kaget setengah hidup, karena ia tidak jadi disembelih seperti para pengawalnya. Raja tidak disembelih karena dianggap cacat, tidak punya telunjuk. Para manusia kerdil menganggap jika mereka memakan daging manusia yang cacat akan mendatangkan aib dan mendatangkan bencana. Akhirnya sang raja pun dibebaskan dan diperbolehkan pulang. Ia merasa bahagia, namun ia merasa berdosa kepada pelayan setianya yang telah ia penjarakan. “Betul juga kata pelayanku, ‘Inilah yang terbaik.’ Telunjukku putus karena tertembak adalah terbaik bagiku, hingga aku selamat dari ancaman maut manusia kerdil. Ia pelayanku dipenjara juga yang terbaik karena tidak ikut berburu. Kalau ikut, tentu nasibnya sama seperti pengawal lain,“ gumamnya dalam hati.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah : 216)
Subhanallah, cerita ini begitu indah memberikan gambaran kepada kita. Semua yang ada di dunia ini adalah semata-mata kehendak Allah Swt. Bencana yang menimpa kita justru adalah hal yang terbaik untuk kita, tetapi terkadang kita sudah berburuk sangka kepada Allah. Kita mengira Allah tidak sayang kepada kita, Astaghfirullahaladzim. Semoga Allah selalu memberi peringatan kepada kita yang sering lalai. Aamiin ya robbal alamin.

Sumber:
Al-Zanki, Jauhar. 2009. Agar Jatuh Cinta Tak Jadi Bencana. Yogyakarta: Pro-U Media.

2 comments for "Allah lebih tahu yang terbaik untuk hambanya"

  1. betul mbak kalau diambil hikmahnya kita akan tahu bahwa tuhan selalu punya rencana yang lebih baik..

    ReplyDelete
  2. Yupss benar sekali. Terkadang kita sering berprasangka yang tidak-tidak. Padahal ada rencana indah dibalik semuanya :-)

    ReplyDelete